Probiotik bagi Peternakan

Oktober 30, 2009

Beberapa penelitian menunjukkan, penambahan probiotik mempunyai dampak positif. Salah satunya menyatakan, bahwa banyaknya kandungan mikroorganisme hidup dalam usus ternak dapat memengaruhi metabolisme dalam usus, meningkatkan populasi mikroorganisme yang menguntungkan, sehingga produktivitas ternak lebih baik.

Probiotik merupakan produk yang mengandung mikroorganisme hidup nonpatogen yang ditambahkan ke dalam pakan, yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan, efisiensi penggunaan ransum, kecernaan bahan pakan dan kesehatan ternak melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Beberapa mikroba yang berasal dari saluran pencernaan ternak unggas, terutama pada ayam pedaging dan ayam petelur, telah direkomendasikan oleh beberapa penelitian sebagai sumber probiotik yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi telur, efisiensi pakan dan menghasilkan produk ternak (daging dan telur) yang rendah kolesterol, serta mengurangi bau kandang. Beberapa mikroorganisme –yang disebut EM/Effective Microorganisms- yang banyak diterapkan  dalam pertanian dan peternakan antara lain: EM-2, EM-3, EM-4, kultur kapang, kultur mikroba rumen, mikroorganisme yang diklon dengan sel pembentukan hormon. EM-2 ialah campuran lebih dari 80 spesies mikroorganisme. Bentuknya cair dengan pH 7,0 dan disimpan dalam pH 8,5. Jumlah mikroorganisme dalam kultur sangat pada mencapai 109/gr. EM-3 merupakan kultur bakteri yang terdiri dari 95% bakteri fotosintetik yang disimpan pada pH 8,5 dengan jumlah sama dengan EM-2. EM-4 merupakan mikroorganisme yang banyak digunakan bagi peternakan, karena 90% bakteri di dalamnya ialah Lactobacillus Spp. Bakteri lainnya Azotobacter, Clostridia, Enterobacter, Agrobacterium, Erwinia, Pseudomonas, dan mikroorganisme pembentuk asam laktat. Media kulturnya berbentuk cairan dengan pH 4,5. Jumlah mikroorganisme di dalamnya sama dengan EM-2 dan EM-3. Dalam bidang peternakan, arti probiotik cukup penting karena saat ini sebagian orang takut terhadap makanan yang mengandung kolesterol. Kadar kolesterol biasanya tinggi pada makanan yang kadar lemaknya tinggi. Dengan pemanfaatan probiotik, kini muncul produk ternak seperti telur rendah kolesterol, daging sapi rendah kolesterol, daging broiler bebas residu antibiotik, dan banyak lagi produk lainnya. Selain itu, banyak peternak yang memanfaatkan EM-4 dengan maksud untuk menghilangkan bau dalam kandang, dan ternyata dengan pengamatan sekilas hasilnya cukup memuaskan. Untuk mengurangi keadaan ini memang masih diperlukan penelitian yang intensif, lebih cermat dan dengan data yang terukur. Dari berbagai hasil penelitian, maka efek probiotik pada ternak secara garis besar adalah : 1) Meningkatkan laju pertumbuhan ternak potong, ayam dan babi (Fuller, 1992). Peningkatan laju pertumbuhan ini terjadi dengan menekan jumlah mikroorganisme patogen yang mengganggu pertumbuhan dalam kondisi subklinis, 2) Memperbaiki produksi susu secara kualitatif dan kuantitatif (William dan New Bold, 1990). Untuk ini mikroorganisme yang paling baik ialah kapang Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus oryzae, 3) Meningkatkan produksi telur baik jumlah maupun berat telurnya (Fuller, 1992), 4) Memperbaiki konversi ransum pada ayam yang diberi Enterococcus faecium (Kumprent, dkk. 1984), 5) meningkatkan kesehatan ternak (Fuller, 1992). mldz

Strategi Pengendalian Gumboro

Oktober 30, 2009

Untuk menghindari kerugian akibat kematian yang tinggi, pertumbuhan yang tidak optimal ataupun efek imunosupresif akibat kasus Gumboro, maka pencegahan kasus ini harus menjadi prioritas utama.
Penyakit Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD) yang ditemukan pertama kali di Delaware USA sekitar tahun 1950-an, sampai saat ini masih kerap muncul di lapangan. Sudah berbagai macam vaksin dicoba namun kejadian Gumboro masih tetap dijumpai. Terutama pada masa peralihan musim seperti sekarang ini, kasus lebih sering banyak muncul. Kondisi lingkungan dan cuaca yang cepat berubah meningkatkan cekaman pada anak ayam.

Kejadian Gumboro biasanya pada ayam berumur 3-4 minggu. Namun di daerah yang tantangan virus lapangannya tinggi kasus bisa terjadi di minggu-minggu awal kehidupan ayam, yaitu kurang dari umur 2 minggu. Ayam yang pernah terserang virus IBD laju perkembangannya menjadi kurang optimal. Pencapaian berat badan terlambat dan FCR nya menjadi lebih tinggi. Selain itu ayam menjadi lebih rentan terhadap agen penyakit infeksius.

Oleh sebab itu, meminimalisir dan mengeliminasi faktor pencetus munculnya penyakit ini di lapangan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini sebenarnya bukan semata-mata menjadi tanggungjawab peternak di tingkat komersial (pedaging ataupun pullet), namun pembibit dan feedmil seharusnya juga mempunyai andil yang tidak kalah penting. Munculnya kasus Gumboro dipicu oleh beberapa hal yang saling berkaitan diantaranya yaitu, kualitas DOC, kualitas pakan, manajemen pemeliharaan, program kesehatan dan vaksinasi, dan biosekuriti.

Kualitas DOC

Peternak komersial tidak mempunyai kendali pada kualitas DOC yang dibelinya. Mereka hanya bisa memilih mana yang dianggap baik ataupun tidak, berdasarkan pengalaman sendiri dan referensi dari peternak lain. Kalau kebetulan pembibit yang sudah diyakininya mempunyai konsistensi dan komitmen tinggi dalam menjaga mutu produknya beruntunglah peternak, karena salah satu beban untuk eliminasi kasus Gumboro sudah berkurang.

DOC yang berkualitas baik merupakan hasil dari suatu proses panjang di tingkat pembibit. Ditentukan dari saat masih berupa telur di dalam tubuh induk, proses koleksi telur tetas, penetasan hingga sampai di tangan peternak komersial. Ayam pembibit yang sehat dengan pakan yang mengandung nutrisi seimbang dan bebas dari mikotoksin, mempunyai program vaksinasi yang ketat, lingkungan kandang yang bersih, serta proses koleksi, penyortiran telur yang akan masuk ke hatchery secara ketat akan menghasilkan DOC yang berkualitas. Dan dibarengi dengan manajemen transportasi yang baik dari hatchery hinggá sampai ke tangan peternak akan menjamin kualitas DOC tersebut.

Maternal antibodi yang tinggi didapat dari induk yang sehat dan divaksin secara teratur dan berkesinambungan. Vaksinasi IBD pada induk biasanya dilakukan sebelum masa produksi dan diulang lagi pada umur 40-45 minggu, dimana pada saat ini biasanya titer antibodi induk sudah menurun. Vaksinasi ulangan ini dilakukan untuk menjaga agar antibodi yang diturunkan ke anak ayam tetap tinggi. Maternal antibodi yang tinggi akan melindungi anak ayam dari infeksi agen penyakit pada minggu pertama kehidupannya (2-3 minggu pertama).

Untuk mendapatkan DOC yang sehat seperti di atas didapat dari telur tetas yang beratnya sudah memenuhi syarat untuk ditetaskan dan berasal dari induk yang tidak terlalu tua ataupun muda, telur tetas bersih, utuh tidak retak ataupun cacat dengan lingkungan kandang yang bersih dan proses penetasan yang baik dan benar. Jika lingkungan kotor dan telur yang ditetaskan pun demikian dikuatirkan embrio juga akan tercemar bakteri seperti E.coli, Pseudomonas, Staphylococcus, dll yang bisa menyebabkan peradangan pada kantong kuning telur (omfalitis).

Kondisi ini akan menyebabkan gangguan proses penyerapan kuning telur yang notabene merupakan sumber makanan di awal kehidupan ayam dan juga maternal antibodi yang diturunkan dari induknya. Atau bisa juga telur tercemar spora jamur Aspergillus, sp, sehingga anak ayam bisa terkena Aspergillosis sejak masih embrio.

Transportasi DOC dari hatchery ke farm juga akan mempengaruhi pertumbuhan DOC tersebut. Kondisi mobil pengangkut harus memenuhi stándar yang ditetapkan. Temperatur dan ventilasi ruangan harus diperhatikan agar anak ayam tidak mendapat stress yang berlebihan dam kecukupan oksigennya terpenuhi.

kualitas pakan

Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh kualitas bahan baku yang menyusunnya. Dalam manajemen pakan hal yang harus diwaspadai adalah keseimbangan nutrisi dan kadar mikotoksin yang mencemarinya. Kandungan protein tercerna yang sesuai dengan kebutuhan ayam dengan komposisi asam amino yang seimbang, demikian juga dengan kadar lemak, energi, serat kasar dan mineral yang imbang sangat penting untuk pertumbuhan ayam.

Kadar mikotoksin dalam pakan harus diperhatikan, karena akan berpengaruh pada sistem imunitas dan pertumbuhan tubuh ayam. Pada saat musim hujan kita perlu waspada dengan mikotoksin ini. Di musim kemaraupun kadang kadar mikotoksin juga masih tinggi. Tingginya kadar mikotoksin berkaitan dengan proses pemanenan, pengeringan dan penyimpanan bahan baku, terutama yang berasal dari biji-bijian. Untuk meminimalisir jumlah mikotoksin perlu pencegahan tumbuhnya jamur dan pembentukan metabolitnya.

Salah satu caranya dengan pengeringan hinggá mencapai kadar air yang rendah, penyimpanan pada ruangan yang kering, penambahan antijamur (asam organik), dan mikotoksin binder (zeolit, bentonit, dll.). Proses penyimpanan dan pengangkutan bahan baku atau pakan jadi jika tidak memenuhi stándar juga akan mempengaruhi kualitas pakan. Indonesia merupakan negeri tropis dengan curah hujan tinggi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan jamur. Temperatur dan kelembaban gudang penyimpan tidak boleh terlalu tinggi, yang ideal disarankan pada suhu tidak lebih dari 240 C dan kelembaban < 17 %. Selain itu pemeriksaan sampel bahan baku dan pakan jadi harus dilakukan secara teratur untuk melihat komposisi nutrisi (analisa proksimat) maupun cemaran mikotoksin.

Manajemen pemeliharaan

Manajemen pemeliharaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha produksi peternakan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang paling utama adalah menciptakan kondisi dan tempat yang nyaman untuk hidup ayam. Jika ayam hidup di kandang yang nyaman, terjaga dari stres lingkungan, kebutuhan oksigen terpenuhi, cemaran gas amonia minimal, tersedia pakan yang berkualitas dan air minum yang bersih sepanjang hari, dan juga dengan pelaksanaan program vaksinasi terhadap berbagai agen infeksius yang tepat diharapkan ayam terhindar dari berbagai stres baik dari lingkungan makro ataupun agen penyakit yang ada. Dengan begitu ayam bisa tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan optimal.

Proses pemeliharaan yang baik dan benar harus dilakukan sejak kedatangan anak ayam, masa brooding dan kehidupan selanjutnya. Masa brooding merupakan waktu yang cukup krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan ayam, sehingga harus dilakukan dengan benar. Populasi dalam satu lingkaran brooder harus diperhatikan, 1 pemanas maksimal untuk 1000 ekor DOC. Jika populasi terlalu padat tingkat stress dan daya kompetisi ayam semakin tinggi dan kecukupan oksigen pun akan berkurang. Untuk mempertahankan suhu badan anak ayam kehangatan ruangan sangat penting karena ayam tidak dierami oleh induknya dan dan pusat pengatur suhu tubuh ayam belum berkembang sempurna. Selain itu buka tutup tirai harus diatur sedemikian rupa sehingga kesegaran udara dan kecukupan oksigen terpenuhi, selain itu juga untuk menghindari paparan angin yang terlalu dini.

Pada minggu pertama merupakan masa pertumbuhan ayam yang paling cepat. Berat badan ayam bisa mencapai 2 kali lipat dari saat menetasnya. Bisa dikatakan saat ini merupakan golden age ayam. Pada masa ini terjadi pembelahan sel cukup tinggi, sehingga kecukupan oksigen dan nutrisi sangat penting. Saat ini juga terjadi penyerapan kuning telur yang di dalamnya terdapat antibodi dari induk. Pemberian pakan sesegera mungkin setelah anak ayam datang akan mempercepat dan mengoptimalkan penyerapan kuning telur. Jika pada masa brooding kehidupan ayam terjaga dengan baik, diharapkan penyerapan antibodi induk terhadap IBD yang ada dalam kuning telur bisa sempurna. Sehingga ayam bisa mengatasi infeksi IBD dini yang bersifat subklinis. Selain itu juga meminimalkan faktor pencetus stres pada ayam seperti menjaga kecukupan pakan, minum, kecukupan sirkulasi udara, pencahayaan dan ketenangan lingkungan.

Program Kesehatan

Kasus Gumboro bisa terjadi jika kekebalan ayam tidak bisa mengatasi serbuan virus lapangan yang masuk ke tubuh ayam dan virus lapangan lebih cepat sampai di bursa dibanding virus vaksin yang diberikan. Hal ini bisa terjadi karena kondisi ayam yang tidak optimal karena stres (manajemen, lingkungan), titer antibodi induk yang rendah, jumlah virus lapangan yang terlalu banyak, strain virus vaksin yang dipakai tidak cocok dengan virus yang ada di lapangan, dan waktu pemberian vaksin yang tidak tepat.

Meminimalisir faktor pencetus stres bagi ayam sangat penting terutama pada awal kehidupan ayam. Jika ayam menderita cekaman baik karena faktor internal ataupun eksternal bisa mengakibatkan daya tahan tubuh ayam menurun. Sehingga agen-agen patogen bisa mudah menginvasi tubuh ayam. Jumlah virus di lapangan yang tinggi akan meningkatkan resiko terkena Gumboro. Antibodi induk ayam hanya bisa melindungi sampai umur sekitar 2-3 minggu, dan daya netralitasnya pun terbatas, jika agen infeksi yang harus dinetralkan terlalu banyak, jumlah antibodi tidak bisa mencukupi sehingga ayam akan kalah juga.

Untuk mengurangi kerja ayam dalam menetralkan antigen, meminimalkan jumlah virus di lapangan sangatlah penting. Ini dilakukan dengan persiapan kandang yang benar-benar baik sebelum kedatangan ayam. Sebelum dipakai kandang harus dicuci kering dan basah sampai bersih, kemudian dilakukan desinfeksi berulang. Lantai kandang juga harus diperlakukan khusus, setelah dicuci bersih diberi larutan soda api kemudian dicuci ulang. Setelah itu diberi larutan kapur hidup. Penyemprotan insektisida ke lantai, langit-langit, tiang, dinding dan sekitar kandang perlu dilakukan untuk membunuh serangga seperti semut, kumbang franky (Altophobius, sp) dll yang bisa menjadi reservoir virus IBD. Penyemprotan kandang secara rutin setelah ayam masuk kandang dengan larutan desinfektan (seperti golongan iodin) akan sangat membantu meminimalisir jumlah virus.

Pemberian antibiotika berspektrum luas selama 3-5 hari pertama kehidupan anak ayam akan membantu mengeliminasi bakteri yang ada pada anak ayam, diharapkan akan mengurangi kasus radang omfalitis sehingga penyerapan kuning telur bis optimal. Selain itu dengan memperkuat kondisi tubuh anak ayam dengan pemberian multivitamin secara rutin akan membantu mengurangi pengaruh cekaman pada anak ayam .

Pencegahan koksidiosis dengan vaksinasi ataupun pemberian koksidiostat diharapkan bisa meminimalisir kejadian koksidiosis pada ayam dan diharapkan secara tidak langsung akan mengurangi kejadian Gumboro ataupun menurunkan tingkat keparahan koksidiosis. Jika ayam terkena koksidiosis pada minggu-minggu awal biasanya resiko terkena Gumboro lebih besar dan parah.

Biosekuriti

Biosekuriti merupakan suatu usaha pengamanan biologik yang bertujuan untuk mencegah masuknya agen-agen patologik ke tubuh ayam. Tidak hanya meliputi proses desinfeksi kandang dan lingkungan, namun merupakan suatu usaha yang terpadu dan berkesinambungan dari tingkat konseptual, struktural dan operasional. Meliputi tata letak, lokasi farm dan kandang, bangunan kandang, pemagaran serta bangunan pendukung seperti kantor, mess karyawan, gudang pakan atau telur, ruang ganti baju, car dip. Juga pola replacement yang all in all out.

Lokasi farm yang tidak berdekatan dengan farm tetangga, hanya terdapat satu macam spesies unggas saja di lokasi, adanya pagar sekeliling farm yang memisahkan farm dengan lingkungan sekitar, dan pola pemeliharaan all in all out, akan mengurangi resiko munculnya kasus penyakit infeksius.

Ketepatan pemilihan vaksin

Pemilihan vaksin yang cocok dengan virus di lapangan sangat penting. Pada saat ini ada banyak macam jenis vaksin yang dijual di pasaran. Dari yang bersifat mild sampai yang intermediate plus. Vaksin yang tergolong mild virusnya bisa menembus titer antibodi induk pada angka 125. Intermediate pada titer 250, sedangkan yang intermediate plus bisa menembus titer di angka 500-800. Berdasarkan grup molekulernya virus gumboro digolongan dalam 6 macam virus. Di Indonesia kebanyakan dari jenis group molekuler 3, 4 dan 5. Kita harus jeli dan pintar dalam memilih produk yang demikian banyaknya di pasar. Vaksin yang mahal tidak selalu menjamin bebas dari kebocoran vaksinasi. Kecocokan strain virus dengan lingkungan setempat harus diutamakan. Jika suatu jenis vaksin sudah cocok di farm kita lebih baik jangan diubah. Virus vaksin yang terlalu keras sebaiknya hindari diberikan terlalu dini, karena bisa merusak sel-sel limfoid di bursa.

Ketepatan Waktu Vaksinasi

Hal yang tak kalah penting untuk meminimalisir kebocoran vaksinasi adalah penentuan waktu yang tepat kapan sebaiknya vaksinasi dilakukan. Untuk dapat menentukan waktu vaksinasi yang tepat, pengukuran maternal antibodi (MAb) terhadap IBD mutlak harus dilakukan. Karena pembibit tidak pernah memberitahukan titer antibodi dari induknya. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan teknik ELISA. Dengan mengetahui status MAb nya kita dapat melihat tingkat keseragaman titer dan menghitung kecepatan penurunannya, sehingga dapat diperkirakan waktu yang tepat untuk vaksinasi. Vaksinasi yang dilakukan pada saat titer MAb masih tinggi tidak akan efektif, virus vaksin justru akan dinetralisir oleh antibodi sehingga virus tidak akan bisa multiplikasi dan pada akhirnya tidak akan muncul respon vaksinasi yang diharapkan. Dan bisa jadi jika ada virus lapangan yang bisa menembus kekebalan ayam, kejadian Gumboro akan muncul.

Kendala dalam penentuan waktu vaksinasi ini adalah ketidakseragaman MAb dari masing-masing individu. Hal ini terjadi karena DOC berasal dari individu induk yang berbeda-beda baik yang seumur atau bahkan berlainan umur. Oleh karena itu pada saat DOC masuk kita harus mencatat no batch yang biasa ada pada masing-masing box. Ayam yang berlainan no batch biasanya berbeda data induk dari telur tetasnya. Dan untuk masing-masing no batch yang berbeda kita mengambil sample darahnya. Jumlah DOC yang kita ambil untuk sampel minimal 20 ekor. Dan satu hal yang harus kita perhatikan DOC yang kita ambil darahnya haruslah yang sehat bukan DOC yang performansnya jelek, agar titer yang didapat merupakan gambaran titer MAb sebagian besar ayam . Kalau kita ambil DOC yang jelek, bisa jadi gambaran titer yang kita dapat juga kurang bagus, dan itu bukan pencerminan dari kelompok ayam tersebut.

Untuk penghitungan prediksi waktu vaksinasi biasanya digunakan rumus van Deventer. Rumus ini dapat dipakai baik untuk ayam pedaging, petelur maupun pembibit. Hal yang harus diketahui adalah waktu paruh MAb IBD berbeda untuk setiap tipe ayam, untuk ayam pedaging 3-3,5 hari, ayam petelur 5-5,5 hari, pembibit 4,5 hari. Selain itu kita juga harus tahu jenis vaksin IBD yang akan digunakan, apakah mild, intermediate ataupun intermediate plus, karena ini untuk mengetahui break through titer (angka titer di mana virus vaksin bisa menembus MAb ayam) dari virus vaksin. Jika menggunakan vaksin yang mild break through titer nya sekitar 125, intermediate plus sekitar 500 dan yang hot di titer 1000.

Cara penghitungan prediksi waktu vaksinasi :

Hari vaksinasi = T1/2 x ( Log2 titer – Log2 target titer)) + umur saat sampling + angka koreksi

T1/2 : waktu paruh MAb (broiler : 3 hari, layer: 5, breeder: 4,5 hari)
Titer: titer MAb (jika CV bagus vaksinasi bisa sekali untuk perlindungan 75 %, namun jika CV jelek vaksin 2 kali untuk perlindungan di 20 %dan 70 % atau 40 dan 90 %)
Titer target: titer MAb di mana virus vaksin bisa menembusnya ( mild: 125, intermediate plus: 500, hot: 1000) tergantung pada spesifikasi masing-masing produk vaksin
Umur sampling: Umur pada saat pengambilan darah
Angka koreksi: tambahan hari jika sampling dilakukan pada umur ayam 0-4 hari (diasumsikan pada 4 hari pertama kehidupan ayam belum terjadi penurunan MAb karena masih adanya penyerapan kuning telur, jika sampling umur 1 hari koreksinya 3, umur 2 hari koreksinya 2, 3 hari koreksinya 1 dan umur 4 hari koreksinya 0).

Kasus Gumboro tidak bisa kita anggap enteng dan sepele, baik berat ataupun ringan akan merugikan farm kita, namun kebocoran vaksinasi tersebut masih bisa kita minimalisir. Tentunya dengan eliminasi faktor-faktor pencetus, sikap disiplin dan konsistensi dalam penerapan manajemen pemeliharaan seperti persiapan kandang yang baik, pemilihan DOC yang berkualitas, menjalankan manajemen pemeliharaan yang sesuai stándar, penerapan biosekuriti yang konsisten, pemilihan jenis vaksin dan waktu vaksinasi yang tepat diharapkan bisa menekan bahkan menghilangkan kasus IBD di farm kita, sehingga kerugian ekonomis akibat IBD bisa kita hindari. Ratriastuti Suwadji

Menghasilkan DOC Berkualitas Prima

Oktober 30, 2009

DOC yang berkualitas prima akan memberikan banyak keuntungan, dalam hal ini kepuasan hati menjadi prioritas. Tidak hanya karyawan di hatchery saja, tetapi karyawan farm akan merasa senang apabila mendapatkan DOC yang berkualitas prima.
Beberapa keuntungan yang didapat apabila kita memelihara DOC dengan kualias prima di antaranya daya hidup tinggi, karena performance yang prima akan menghasilkan daya tahan yang optimal, feed konversi lebih baik, dan pertambuhan berat badan yang lebih baik. Dengan ketiga aspek tersebut, untuk broiler komersial akan berdampak terhadap nilai jual, biaya pakan akan lebih rendah, dan panen akan sesuai target. Sedangkan untuk breeding dan layer performance pullet yang optimal akan menghasilkan periode produksi yang maksimal.

Secara umum DOC yang berkualitas prima dapat didefinisikan sebagai anak ayam yang berpotensi mempunyai peformance terbaik seperti yang telah disebutkan diatas.

Ada dua hal yang bisa kita tentukan dalam mengukur kualitas DOC yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif. Untuk pengukuran secara kuantitatif, kualitas DOC dapat diukur dari berat saat setelah menetas, panjang anak ayam, berat sisa kuning telur (yolk) dan lain-lain. Untuk pengukuran qualitatif secara umum yakni bersih, kering, bebas dari kotoran dan kontaminasi, mata jernih dan berbinar, bebas dari cacat, pusar menutup lengkap dan bersih , tidak ada sisa kuning telur pada area pusar.

Tubuh kuat terhadap sentuhan, tanpa ada tanda-tanda stress seperti panting, tanggap dan tertarik pada kondisi lingkungan, respon terhadap suara, konformasi normal dari kaki, tidak ada merah (hock) dikaki, tidak ada pembengkakan, tidak ada luka dikulit, paruh normal, tidak lembek dan kuku kuat,. Pengukuran kuantitatif bisa diukur dengan timbangan, penggaris dan lain-lain. Untuk pengukuran kualitatif perlu standarisasi –kalau tidak akan bersifat subjektif– seperti menggunakan pasgar score dengan nilai 0–10 dan Tona score dengan nilai 0-100.

Penanganan telur tetas

Untuk mendapatkan DOC dengan kualitas prima juga diperlukan adanya penanganan terhadap telur selama di hatchery. Beberapa penanganan tersebut di antaranya :

1. Grading
Tujuan dilakukannya grading yakni untuk mendapatkan dan menginkubasi telur yang berkualitas baik dengan beberapa cara. Pertama, afkir dan buang telur yang tidak sesuai standar untuk ditetaskan. Telur yang tidak sesuai dengan standar yakni kotor, retak, kecil (sesuai standar berat HE), sangat besar atau double yolk, kerabang yang jelek, serta bentuknya tidak bagus.

Kedua, simpan telur secara hati-hati ke dalam setter tray atau tray transportasi dimana ujung yang tumpul berada di atas. Ketiga, berhati-hatilah selama proses grading, selama awal produksi periksa berat dan seleksi hatching eggnya. Keempat, simpan di ruangan terpisah dimana temperature dan kelembaban dikontrol. Kelima, jaga ruang penanganan telur dalam keadaaan bersih dan nyaman. Kontrol kutu di ruangan telur dengan cara pisahkan atau tolak telur kotor dan buggy dari hatchery.

2. Fumigasi
Tujuan dilakukan fumigasi yakni menghilangkan atau mengurangi kontaminan yang menempel pada permukaan telur agar tidak terjadi penetrasi kedalam telur baik jamur maupun bakteri. Fumigasi dilakukan harus sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, contoh : single, double, dan seterusnya.

3. Penyimpanan Telur
Menyimpan dan mengoleksi telur agar sesuai dengan kebutuhan mesin atau permintaan dengan menjaga kualitas telur tetas dengan kondisi ideal sesuai lama penyimpanan.

Mekanisme yang menyebabkan turunnya hasil penyimpanan adalah sampai hari ini masih belum jelas, umumnya diketahui bahwa viskositas albumen (tingginya albumen) menurun dan pH albumen meningkat selama penyimpanan.

Perubahan dalam albumen tidak sesederhana yang digambar untuk kualitas hatching egg dalam menghasilkan DOC yang berkualitas prima. Kualitas telur terbaik terjadi pada saat hari dikeluarkan dari induk dan berubah dalam kekentalan albumen dan pH yang terjadi terutama selama 4 hari. Bagaimanapun, hatchability tertinggi diproduksi dari telur yang disimpan selama 1-2 hari, dan dari telur yang optimal kualitas albumennya.

Pengaruh hatchability dan quality
Meskipun praktek di hatchery penyimpanan akan rusak setelah lama penyimpanan lebih dari 7 hari, efek negatif harus dihindari dari hari kedua dan seterusnya. A Norwegian mempelajari (2001) pada hasil hatchability dari 112 flok Ross komersial 208 diungkap bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi hatchability adalah preinkubasi penyimpanan telur. persentasi hatchability menunjukkan penurunan linear menurun dari hari kedua dan seterusnya. Dimana telah diperkirakan 0,7% perhari setiap penambahan penyimpanan.

Umur induk
Dimana terdapat pilihan, telur dari induk muda harus disimpan dibanding yang tua, menurunnya dalam hatchability setelah penyimpanan lebih besar pada telur yang lebih tua induknya.

Suhu penyimpanan
Setelah oviposisi, suhu dalam telur secara bertahap turun dibawah fisiological zero yaitu suhu minimum dimana embrio akan tumbuh kalau suhunya diatas fisiological zero. Suhu dibawah point ini mempengaruhi karakteristik telur lain oleh karena itu akan mempengaruhi kualitas telur tergantung dari durasi penyimpanan.

Ketika telur disetting disimpan sampai 3 hari suhu harus 18-210 C. Dengan periode penyimpanan 4-7 hari, telur harus disimpan antara 15-180 C. Ketika penyimpanan sampai 7 hari suhu harus 10-120 C.

Turning telur
Penelitian telah mengungkap bahwa turning telur dapat memperbaiki hatchability setelah penyimpanan preinkubasi. Dimana banyak data yang diteliti menyarankan bahwa metode ini hanya berguna untuk penyimpanan yang lama, hasil terbaru (2002) menggunakan telur ross 308 mengindikasikan bahwa turning telur 4 kali perhari dibutuhkan untuk periode penyimpanan 7 hari.

Perlakuan preinkubasi
Penilitian telah mengindikasikan bahwa prewarming yang segera sebelum memulai inkubasi dapat mengurangi turunnya hatchability setelah penyimpanan. Selama periode prewarming ini komponen suhu bervariasi pada telur menjadi homogen sebelum awal inkubasi , yang mana terlihat menyebabkan lebih seragamnya perkembangan awal embrio. Dalam penelitian ini, telur di hangatkan pada suhu 20-250 C untuk beberapa jam (5-16 jam) sebelum inkubasi. Bagaimanapun, dampaknya hanya akan tampak setelah penyimpanan yang lama. (lebih dari 14 hari).

Suhu inkubasi
Hasil terbaru dari penelitian pada telur kalkun mendemontrasikan dampak positip pada meningkatnya suhu selama minggu pertama dan kedua di inkubasi pada daya tetas telur yang disimpan. efek pada perlakuan suhu inkubasi pada telur broiler secara langsung di R & D. Pengukuran sebelumnya menyebutkan alat yang memudahkan untuk menurunkan hilangnya hatchability dan chick quality setelah penyimpanan pre inkubasi. Ditambah lagi, ada beberapa metode yang terbukti efektif dalam kondisi experimen tapi sulit diaplikasikan di hatchery .

Posisi telur
Dampak positip pada penympanan telur yang disimpan dengan posisi runcing diatas telah di tunjukkan terdahulu. Dengan cara ini posisi sentral kuning telur (dan embryo) terjaga selama penyimpanan. Di posisi ini, embrio terlihat lebih terlindungi dari dehidrasi dan adhesi pada membran, yang mana hasilnya lebih baik dalam bertahan selama penyimpanan.

Perlakuan pre warming di farm
Pemanasan sederhana telur yang segera setelah ovoposisi sebelum penyimpanan menunjukan mengurangi hilangnya hatchability yang disebabkan penyimpanan. Perlakuan ini memperlihatkan kemajuan perkembangan embrio pada tahap yang mana lebih baik dapat bertahan di periode penyimpanan. Penelitian terbaru 2001 menggunakan telur breeder komersial, pre warming HE pada suhu 37.5 C untuk periode 6 jam meningkatkan hatchability yang disimpan relatif untuk kelompok kontrol. Bagaimanapun peningkatan hanya menunjukkan pada telur yang disimpan 14 hari. Pada telur yang disimpan untuk 4 hari tidak ada pengaruh setelah diteliti. Metode ini terlihat sedikit cocok untuk telur dari kandang tua, pada saat telur mengandung embryo yang siap kemajuan lebih ketahap pada saat ovoposisi.

Ditulis oleh : Sandi Galih Purnama, S.Pt., Hatchery Manager. CV Intan Jaya Abadi, Sukabumi Jawa Barat.

CDDGS, Ampas Jagung Yang Naik Daun

Oktober 30, 2009

Dalam beberapa masa yang lewat, 3-5 tahun yang lalu, jagung masih digunakan sebagian besar untuk kebutuhan konsumsi (manusia maupun ternak). Dari semua itu 80 % di antaranya digunakan untuk pakan ternak (feed) dan hanya 6-7 % untuk pangan manusia (food). Kini jagung malah dilirik untuk pemanfaatan yang lain.
Jagung jadi rebutan! Jagung tidak lagi hanya sebagai pakan (feed) atau bahan pangan (food), tetapi sudah menjadi penghasil etanol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar (biofuel), alternatif substitusi BBM konvensional. Belakangan, banyak kalangan sudah mengalihkan perhatian kepada sumber-sumber bahan bakar terbarukan karena mereka menganggap era sumber bahan bakar fosil (minyak bumi) sudah selesai. Kini di pelbagai kawasan, jagung dimanfaatkan sebagai penghasil etanol, yang dapat digunakan sebagai biofuel pengganti BBM. Kini biofuel semakin populer saja.

Dalam 2-3 tahun terakhir ini, kebutuhan akan jagung untuk industri pakan dan pangan terpangkas sekitar 20 %, sehingga hanya tersisa 60 % saja. Di Amerika Serikat misalnya, 18,3 % produksi jagung di sana, dari jumlah 27.054 bushel (1 bushel kurang lebih setara dengan 25,4 kg) digunakan sebagai penghasil etanol. Pertanyaannya kini, apakah fakta ini, bagi dunia peternakan, merupakan khabar baik atau buruk? Secara sederhana tentu hal ini dianggap sebagai kompetitor bagi dunia peternakan, khususnya dalam soal penyediaan pakan ternak. Artinya, ‘terbalik’ dari kebutuhan untuk pakan, produksi etanol malah meningkat saja.

Tetapi, jangan risau dulu. Dari pembuatan etanol dari jagung itu dihasilkan by product (hasil sampingan) yang dikenal sebagai Corn Distillers Dried Grains with Solubles, yang lebih ‘beken’ dikenal sebagai CDDGS, atau DDGS saja. CDDGS adalah hasil sampingan fermentasi dan destilasi jagung menjadi etanol. Meskipun menyandang predikat ‘hasil sampingan’, CDDGS tentu bukan sekadar ampas, karena ternyata CDDGS itu sangat potensial, dan ekonomis pula, digunakan sebagai bahan baku pakan ternak, khususnya bagi ternak unggas. Dari 1 bagian jagung yang difermentasi untuk menghasilkan etanol, kira-kira akan dihasilkan 1/3 bagian CDDGS. Sebagai gambaran, dari 1 bushel jagung (kurang lebih 25,4 kg) akan dihasilkan 8,2 kg CDDGS, selain 8,2 kg gas CO2. Dan, tentu saja dihasilkan etanol sebagai hasil utamanya, yaitu sebesar 10,2 liter.

Kaya protein

Mungkin ini tidak bisa dihindari bahwa jagung kini dimanfaatkan untuk keperluan lain, untuk produksi biofuel itu. Namun demikian, industri ini menghasilkan by product (CDDGS) yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. By product ini ternyata masih mengandung nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan produksi ternak, khususnya untuk ternak unggas. Ini misalnya, dan kedengarannya pasti agak aneh, CDDGS ternyata kaya protein. Padahal jagung sendiri bukanlah sumber protein (mengandung hanya ± 8,9 % protein kasar) melainkan sebagai sumber energi (mengandung 3.370 kkal/kg energi metabolis untuk unggas).

Mengapa bisa demikian? Produksi etanol berbahan dasar jagung yang kelak menghasilkan CDDGS itu adalah melalui proses fermentasi (selama 48-72 jam) yang melibatkan bakteri-bakteri fermenter. Bakteri-bakteri yang telah ‘dikaryakan’ ini kelak akan ‘terdampar’ pada ampas yang dikenal sebagai CDDGS itu. Bakteri-bakteri ini merupakan sumber single cell protein (protein sel tunggal) pada CDDGS. Itulah sebabnya mengapa CDDGS itu kaya akan protein (crude protein, CP). Selain itu, CDDGS kaya asam amino, walaupun asam amino tertentu, seperti lysin, kecernaannya rendah. Selain sebagai sumber CP, CDDGS juga merupakan sumber energi (1283 kkal/lb energi metabolis untuk kalkun dan ayam) dan sumber mineral (dengan kadar abu 6,5 %). CDDGS mengandung P available yang cukup tinggi (0,8 %) karena proses reaksi enzim fitase dari bakteri yang terlibat dalam fermentasi memungkinkan pelepasan P itu dari ikatannya dengan asam fitat.

Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa CDDGS merupakan sumber xantophyl yang baik terutama pada CDDGS yang berwarna terang (mengandung 46 – 50 ppm xantophyl). Ini dapat dimanfaatkan untuk pigmentasi kuning pada telur dan karkas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian 10 % CDDGS pada pakan ayam akan memberi kontribusi terhadap pigmentasi telur dan karkas ayam.

Porsi CDDGS pada ransum unggas

Meskipun sudah disebut-sebut sangat potensial sebagai bahan baku pakan ternak, porsi penggunaan CDDGS dalam formulasi ransum memang harus dipertimbangkan dengan seksama. Ini menuntut kehati-hatian. Walau bagaimanapun, selain keunggulannya, CDDGS juga ‘menyimpan’ sejumlah kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah bahwa asam amino lysin yang terkandung pada CDDGS mempunyai kecernaan yang rendah. Inilah yang disebut sebagai perlu kehati-hatian. Peningkatan porsi CDDGS pada ransum bisa saja menyebabkan defisien terhadap asam-asam amino esensial khususnya lysin. Selain pada asam amino lysin, CDDGS juga mempunyai kelemahan yang lain, yaitu mengandung serat kasar (crude fiber) yang tinggi. Ada dugaan bahwa enzym yang bekerja selama proses fermentasi itu hanya bekerja pada starch saja bukan pada NDF dan ADF.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa porsi CDDGS pada ransum ternak berbeda-beda menurut jenis ternaknya. Untuk broiler dapat digunakan hingga 10 % CDDGS, sedangkan untuk kalkun (grower dan finisher) dan ayam petelur masing-masing 15 %

Ditulis oleh : Ir. I Dewa Gede Alit Udayana, MS, akademisi, tinggal di Bangli, Bali

Efisiensi Pakan Memakai Tempat Pakan Gantung

Oktober 30, 2009

Pada saat ini sering kita mendengar kata efisiensi. Efisiensi adalah kemudahan dalam hal cara kerja yang akan menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Dalam hal ini, penulis yang juga merupakan pelaku peternakan mencoba berpartisipasi untuk mengemukakan hasil pengamatan di lapangan yang ada kaitannya dengan efisiensi, yaitu pemakaian tempat pakan gantung untuk DOC yang berkapasitas hanya 0,5- 1 kg per tabungnya.

Dengan catatan,  manajemen sudah baik. Mulai dari persiapan kandang (cuci kandang dan istirahat yang cukup), penanganan masa brooding yang sudah sangat baik –dari masa lepas brooding hingga masa panen, dan ditangani oleh operator kandang yang bertanggungjawab.

Penulis mencoba menambahkan atau melengkapi perlakuan pada masa brooding dengan memakai tempat pakan gantung untuk DOC. Awalnya, penulis menyampaikan ide ini sekitar 5-6 bulan lalu kepada pemilik PIE TIEK KOE Farm di Bogor (milik Bambang Ismono), yang menyambut baik ide tersebut dan mengaplikasikannya sebanyak 200 set tempat pakan ukuran 1 kg dan berhasil sukses pada periode pertama.

Selanjutnya, cara ini diaplikasikan kepada kandang-kandang lainnya. Beranjak dari keberhasilan ini, penulis pun mulai mempresentasikan ide ini kepada teman-teman TS (Technical Service) lainnya, dan terbukti beberapa farm sudah mengaplikasikan cara ini. Di lain sisi, secara tidak langsung ide ini ternyata mampu menghidupkan pengrajin pembuat tempat pakan dari seng/ limbah kaleng. Semoga ide ini dapat diterima oleh seluruh peternak di Indonesia. Karena sudah terbukti, kandang tradisional pun masih bisa melakukan efisiensi.

Pemakaian tempat pakan gantung ini memiliki beberapa nilai tambah untuk menciptakan efisiensi, antara lain :
1.       Pakan tidak diinjak-injak DOC, tidak terkena feses dan tidak terbuang-buang
2.       Feed intake akan terjamin karena pakan akan selalu ada, tanpa jeda kosong.
3.       Pakan yang diberikan tepat sasaran, sehingga DOC akan tumbuh dengan baik serta daya tahan tubuhnya lebih baik.
4.       Penghematan pengobatan
5.       Pekerjaan operator kandang menjadi lebih ringan, karena tidak harus sering-sering membersihkan tempat pakan yang terkena feses. Selain itu,  pakan akan tersedia 24 jam –bahkan saat operator kandang sedang istirahat.
6.       Mudah mengontrol kualitas pakan dan DOC.

Kekurangan cara ini adalah dibutuhkan galar-galar baru untuk tempat pakan kecil ini, karena per lingkaran membutuhkan sekitar 30-35 buah per 1000 ekor DOC. Namun dari segi efisiensi biaya, dari hasil perhitungan penulis, pakan dapat dihemat sekitar 100-150 gram per ekor –dalam waktu panen 30 hari. Kontinuitas pakan yang terjamin menyebabkan pertumbuhan ayam di 10 hari pertama lebih baik. Pencapaian bobot badan sesuai dengan standar, dengan konsumsi pakan lebih hemat.

Sebagai gambaran pengeluaran dana, dalam waktu 1 bulan  dapat dihemat sekitar Rp. 450,-  hingga Rp. 675,- per ekor. Dengan harga tempat pakan Rp. 5.000,- per buah, maka biaya yang dibebankan untuk setiap ekor ayam adalah Rp. 170,-. Dari perhitungan akhir, ada selisih Rp. 280,-  hingga  Rp. 465,- untuk setiap ekor dalam 1 siklus pemeliharaan. Apabila perawatannya baik, tempat pakan ini masih dapat dipakai hingga 1 tahun. Oleh sebab itu, dalam periode selanjutnya, biaya produksi yang dihemat jadi sebesar Rp. 450,- hingga Rp. 675,- per ekornya.

Ditulis oleh : Drh. Mahfud Effendi, praktisi perunggasan tinggal di Bogor – Jawa Barat


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.